BullrunIndonesia
Analisis Fundamental

PER, PBV, dan EV/EBITDA: Menilai Saham Mahal atau Murah

·Sarah Wijaya

Rasio valuasi hanyalah alat pembanding, bukan vonis. Pelajari cara memakai PER, PBV, dan EV/EBITDA secara benar beserta jebakan masing-masing.

Pertanyaan paling sering diajukan investor adalah apakah sebuah saham mahal atau murah. Rasio valuasi lahir untuk menjawabnya, tetapi sering dipakai dengan cara yang keliru: dianggap sebagai vonis absolut, bukan sebagai alat pembanding. PER rendah tidak otomatis berarti murah, dan PER tinggi tidak otomatis berarti mahal. Mari kita bedah tiga rasio yang paling sering dipakai.

Price to Earnings Ratio (PER)

PER dihitung dengan membagi harga saham dengan laba bersih per saham. Rasio ini bisa dibaca sebagai berapa rupiah yang bersedia dibayar pasar untuk setiap satu rupiah laba tahunan perusahaan. Cara lain membacanya: bila laba perusahaan tetap sama selamanya, PER 12 kali berarti butuh sekitar 12 tahun laba untuk menutup harga yang Anda bayar.

Ilustrasi: saham fiktif berkode ABCD berharga Rp3.000 dengan laba bersih per saham Rp250. PER-nya 12 kali. Jika saham lain di sektor yang sama diperdagangkan pada PER rata-rata 18 kali, ABCD terlihat relatif lebih murah. Kata kuncinya adalah relatif.

Jebakan PER

  • PER rendah karena laba sedang di puncak. Pada perusahaan siklikal seperti komoditas, PER justru terlihat paling rendah ketika harga komoditas sedang di puncak dan laba sedang maksimal. Setelah siklus berbalik, laba anjlok dan PER melonjak. Untuk sektor siklikal, PER rendah kerap merupakan sinyal bahaya, bukan peluang.
  • Laba yang mengandung pos tidak berulang. Keuntungan penjualan aset atau selisih kurs bisa menggelembungkan laba sesaat dan membuat PER tampak menarik secara semu.
  • Laba negatif. PER menjadi tidak bermakna untuk perusahaan yang merugi.
  • Membandingkan lintas sektor. PER wajar untuk perusahaan yang tumbuh cepat berbeda jauh dari PER wajar untuk perusahaan yang stagnan. Bandingkan hanya dengan sesama sektor dan dengan sejarah perusahaan itu sendiri.

Price to Book Value (PBV)

PBV membandingkan harga saham dengan nilai buku ekuitas per saham. Nilai buku adalah total aset dikurangi total liabilitas menurut catatan akuntansi. PBV 1 kali berarti pasar menghargai perusahaan persis sebesar nilai buku ekuitasnya.

Rasio ini paling berguna untuk perusahaan yang asetnya bersifat keuangan dan relatif mudah dinilai, seperti perbankan dan lembaga pembiayaan. Untuk perusahaan berbasis merek, jaringan distribusi, atau teknologi, nilai buku sering jauh di bawah nilai ekonomi sebenarnya karena aset tak berwujud tidak sepenuhnya tercatat.

PBV wajib dibaca bersama Return on Equity (ROE), yaitu laba bersih dibagi ekuitas. Logikanya sederhana: perusahaan yang mampu menghasilkan ROE 20 persen pantas dihargai lebih dari satu kali nilai bukunya, karena setiap rupiah ekuitas menghasilkan laba yang besar. Sebaliknya, PBV 0,5 kali pada perusahaan dengan ROE 3 persen bukanlah diskon, melainkan cerminan bahwa modalnya memang tidak produktif. Aturan praktis yang berguna: PBV rendah dengan ROE rendah bukan saham murah, itu saham yang layak murah.

EV/EBITDA

Rasio ini lebih jarang dibahas di kalangan ritel, padahal sangat berguna untuk perusahaan padat modal seperti telekomunikasi, infrastruktur, energi, dan menara telekomunikasi.

Enterprise Value (EV) adalah kapitalisasi pasar ditambah utang berbunga dikurangi kas. Angka ini menggambarkan nilai seluruh perusahaan, bukan hanya bagian pemegang saham. EBITDA adalah laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi.

Keunggulannya, EV/EBITDA netral terhadap struktur permodalan. Dua perusahaan dengan bisnis identik tetapi tingkat utang berbeda akan menunjukkan PER yang sangat berbeda, sementara EV/EBITDA-nya tetap sebanding. Rasio ini juga tidak terganggu oleh perbedaan kebijakan penyusutan.

Kelemahannya juga perlu diketahui. EBITDA mengabaikan belanja modal, padahal bagi perusahaan padat modal, belanja modal adalah biaya nyata yang harus dikeluarkan terus-menerus agar bisnis tetap berjalan. EBITDA yang besar bisa menutupi kenyataan bahwa nyaris seluruhnya habis untuk mengganti mesin dan jaringan. Karena itu, selalu periksa juga arus kas bebas.

Cara Memakainya Bersama-sama

Tidak ada satu rasio yang mencukupi. Kerangka yang lebih sehat:

  • Bandingkan dengan sejarahnya sendiri. Apakah PER saat ini di atas atau di bawah rata-rata lima tahun terakhir perusahaan itu? Ini pembanding yang jauh lebih relevan daripada angka mutlak.
  • Bandingkan dengan pesaing langsung. Bukan dengan seluruh pasar, melainkan dengan perusahaan yang model bisnisnya benar-benar mirip.
  • Kaitkan dengan pertumbuhan. Perusahaan yang labanya tumbuh 20 persen per tahun secara berkelanjutan pantas menyandang PER lebih tinggi. Konsep ini yang mendasari rasio PEG, yaitu PER dibagi tingkat pertumbuhan laba.
  • Kaitkan dengan kualitas. ROE tinggi, utang rendah, dan arus kas kuat membenarkan valuasi yang lebih mahal.
  • Tanyakan mengapa murah. Pasar jarang salah harga tanpa alasan. Cari tahu alasannya, lalu nilai apakah alasan itu bersifat sementara atau permanen.

Valuasi Bukan Alat Pengatur Waktu

Satu hal yang perlu diterima: saham murah bisa bertahan murah selama bertahun-tahun. Valuasi memberi tahu Anda seberapa besar margin keamanan yang Anda miliki, bukan kapan harga akan naik. Investor yang membeli hanya karena PER rendah dan mengharapkan kenaikan dalam sebulan sedang mencampuradukkan dua kerangka berpikir yang berbeda. Analisis valuasi adalah kerangka jangka panjang, dan dibutuhkan kesabaran agar nilainya terealisasi.

Penutup

Rasio valuasi adalah pertanyaan pembuka, bukan kesimpulan. PER memberi tahu berapa yang dibayar pasar untuk laba, PBV memberi tahu berapa yang dibayar untuk modal, EV/EBITDA memberi tahu berapa yang dibayar untuk seluruh bisnis terlepas dari struktur utangnya. Ketiganya hanya bermakna bila dibandingkan dengan sesuatu, dan hanya berguna bila Anda memahami bisnis di baliknya.

Bagikan artikel ini